Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Friday, 27 October 2017

Epic



Anggap saja kota ini adalah kenangan
Dan aku sedang duduk di sudut kota
Setengah ragaku adalah rindu
Setengahnya lagi adalah kamu

Gedung, lampu lalu lintas, dan mobil
Kuanggap sebagai atribut kisah kita
Tak lupa aku lepas dari senja
Jika pagi aku adalah rindu, maka malamku adalah kamu

Kubiarkan mentari menyinari hariku
Agar rindu semakin terik
Dan kusisakan gelap di malam hari
Agar kamu selalu menghantuiku

Tahukah aku perbedaan antara rindu dan kamu ?
Seutas fantasi yang penuh gelora tentunya
Epik tragedi, atau melodi ?
Tergantung kacamatamu, Kasih

Oww...
Kota ini bukanlah yang dulu,
Sekarang lebih modern
Lebih banyak lampu berpijar
Dan kenangan yang warna-warni

Ketika di perempatan jalanan
Kau sering tersesat,
Bodoh, kau punya peta
Tapi tak tahu jalan pulang

Atau kau memang sengaja tersesat
Agar kau hidup di kota lebih lama
Menikmati setiap menitnya
Merasakan setiap udaranya

Yang jelas saja
Kita tak sedang bercanda
Kota ini bukan kota yang dulu
Kota ini kota kenangan masa depan

Monday, 25 September 2017

Tali-temali

Tali busur tak selamanya dapat diregang
Aku ingin mengambil tali bicara untukmu
Agar tak menghabiskan tali persaudaraan

Tali-temali di ujung tali sepatu

Apakah aku harus menggunakan tali duga, agar tahu kedalamaan hatimu
Apakah aku harus menggunakan tali monyet, agar tak jatuh ke lautan bebas

Tali-temali di ujung tali air

Tali jangan putus, kaitan jangan direkah
Rekatkan tali serekat tali belati
Agar tak dapat tali api diantara kita

Tuesday, 11 July 2017

Bosan

Aku duduk di bawah pohon
Dan aku merasa datar
Emosi dan jiwa terasa hambar
Seluruh kejenuhan memenuhi ragaku

Bosan
Letih, lelah, penat aku dengan dunia
Oh, bosan
Terkulai, terkapar, lemah aku dengan kehidupan

Kaki ini malas untuk menujumu
Mata ini berat untuk menatapmu
Telinga ini sudah puas dengan raunganmu
Apalah daya yang tergeletak kegelapan

Bosan
Aku ingin terbang
Melayang, mengudara, bebas
Mengepakkan sayap-sayap anugerah
Aku ingin terbang

Thursday, 29 June 2017

Fatamorgana

Mimpi yang lekat pada dinding kamar
Tercetak goresan angan tinggi
Ribuan warna-warni masa depan
Yang layu karena emosi membara
Sirna jatuh dalam kegelapan

Sekarang aku tahu,
Ini hanyalah ilusi
Seperti di padang sahara
Terbuai oase fantasi
Semua hanyalah fatamorgana

Kerinduan mimpi itu
Menyesakkan hati ini
Jika terpaut, aku takut kembali

Maka dari itu, aku pergi jauh
Aku akan menata kembali
Merangkai cahaya kehidupanku lagi
Membangun istanaku kembali
Yang lebih realistis dan logis

Tuesday, 27 June 2017

Sebut Saja Pesan

Mungkin puisi ini tak sepuitis puisi "Hujan Bulan Juni" milik Mbah Sapardi

Mungkin juga teks ini tak secerdas pemikiran Eyang Habibie yang lahir di bulan Juni

Tetapi, di bulan Juni ini, kuhantarkan amplop berisikan senyuman, yang berasal dari samudera cinta

Bukan amplop yang berasal dari negeri amplop yang diproduksi oleh WS Rendra

Bukan pula amplop dari tangan kotor,tapi amplop dari jemari halus nan lembut

Penuh dengan kedamaian, kesucian, dan ketenangan

Syair ini bukanlah syair dari sekedar penyair

Syair ini adalah syair dari kebenaran hati yang tak terungkapkan

Jika kata tak mampu lagi mengubah rasamu, biarkan sajak ini berbaris pada barisan para perasa

Agar kau kenang, terbang ke angkasa bersama malaikat senja

Dan malaikat senja akan merangkai kata

Merangkai secara perlahan, satu persatu, di matamu, agar kau kenang

Monday, 26 June 2017

Tak Selalu

Angin tak selalu mengarah padamu, memang

Bahkan airpun tak selalu mengalir jernih, memang

Janganlah bersedih, memang sudah waktunya

Jika tak padam jua, menangislah

Buang rasa sesalmu, dan biarkan matamu basah

Lelahmu tak terbalaskan, memang

Biarkan mata basahmu yang berbicara

Ragamu yang letih biarkan rehat sejenak

Buang penatmu jauh-jauh

Saatnya kamu melangkah dengan jalan barumu

Biarkan hari-harimu ceria

Seperti sedia kala, yang lebih baik

Ini jalanmu, ambillah milikmu

Ini harimu, genggam hari-harimu

Ini hidupmu, senyumanmu memberikan makna

Thursday, 8 June 2017

Genggamlah Bulan

Lapangan rampal tak buatmu takut
Kau ingin berlari hingga mata ini terpejam
Tekadmu mengalahkan nafsu
Anganmu pergi mengudara

Berlarilah
Pergilah
Terbang ke langit
Dan genggamlah bulan

Jika suatu saat nanti
Kau menemukan jati dirimu
Percayalah
Yakinlah

Hari-hari akan berjalan dengan melodi
Bumi akan berputar penuh nada
Bulan akan menyinari anganmu
Pelangi akan selalu bersamamu

Oh Tuhan
Terimakasih padaMu takkan reda
Puji padaMu takkan padam
KasihMu sungguh penuh dengan bintang

Sunday, 30 April 2017

Bukan Singa

Apakah singa harus mengaung .
Sehingga bukanlah singa jika tidak mengaung.
Ah yang benar saja.
Singa tetaplah singa
Walau tak mengaung

Bahkan manusia tetaplah manusia
Walau tak memiliki hati.

Atau sebaliknya

Walaupun singa mengaung
Walau singa mampu bernyanyi
Singa mampu berjoget
Singa tetaplah singa

Bahkan manusia tetaplah manusia
Walau dia mampu sombong

Dunia ini bukanlah dunia siapa bisa dia boleh masuk.
Ini dunia, kamu adalah kamu bukan dia, ataupun mereka

Jangan kehilangan hati atau berlaku sombong.
Karena kamu adalah kamu

Friday, 21 April 2017

Tetaplah Tersenyum

Jika qalbu terkena duri
Jika akal terkena mendung
Maka tetaplah tenang
Dan yakin akan Tuhanmu

Tersenyumlah
Tetaplah terbang
Tetaplah melayang
Senyuman tipis memberikan cukup arti

Bunga mawar akan mekar kembali
Awan akan cerah kembali
Dan hatimu akan gembira kembli
Akalmu akan jernih kembali

Yakin akan Tuhanmu
Percayalah padanya
Semua akan baik-baik saja
Karena hidup adalah sebuah perjuangan

Monday, 17 April 2017

Sendok Ketemu Sotel

Jika ada sendok, maka ada garpu
Maka, ada pasar ada pengunjung
Pasar selalu ramai dikunjungin
Biasanya kaum ken dedes
Tapi kaum arjunapun boleh hadir

Jika ada sendok dan ada sotel
Maka tak layak
Pasti ada hal yang tak jelas
Seperti senja, tak jelas warnanya
Merahkah? kuningkah? ungukah?

Apalagi jika pasar dikerumunin oleh kaum elit
Sangat tak pantas
Bukan elit sakunya
Bukan elit pikirannya
Tapi elit jubahnya

Kedatangan kaum elit seperti mengoyak daging saja
Makan dengan beringas dan menghancurkan segalanya
Segalanya menjadi hancur lebur
Seperti tanah yang longsor
Rusak berantakan

Kaum ken dedes sendu, tangis, dan menjerit
Dan kaum arjunapun, hanya bisa berceloteh lidah
Semua pedih, gundah, remuk
Jika perlu, hancurkan saja bumi ini
Biar puas

Bayangan Cerah

Mungkin seperti cahaya
Yang selalu hadir dengan bayangan dibelakangnya
Mungkin juga, kamu adalah cahaya yang berjalan
Dan aku, bayangan yang mengikutimu

Cahaya indah merasuk sanubari
Terbang melayang ke angkasa
Wahai Panduka Bumi
MalaikatMu sungguh mempesona

Aku tak kuasa memetik bunga mawar
Cukuplah menjadi penjaga taman
Tak berarti memiliki
Cukup membayangi

Wahai Panduka Bumi
Bait-bait suci terlantunkan
Tangan-tangan mulia mulai berjanji
Melalui tandamu, aku menunggu

Thursday, 6 April 2017

Hilang

Dalam sujudku aku berduka
Mata terbuka tapi hati tertutup
Bertanya pada gulungan kertas suci
Aku tak kuat menahan diri

Hati yang disergap alunan melodi
Naluri yang tak mampu memilih
Terhempas kedalaman jiwa
Terhanyut aliran sungai yang ganas

Dua hati yang tertumpuk kerinduan
Apakah engkau dia?
Apakah dia engkau?
Dua hati yang tertumpuk kerinduan

Jika ikatan terseret lagu melankolis
Diriku lenyap dalam kegelapan
Seperti cerah dimakan hujan
Aku hilang

Tuesday, 4 April 2017

Burung Berbulu Sutra

Ketika burung-burung berterbangan
Mengepakkan sayap-sayap suci
Dihantam awan-awan gelap
Melaju bersama angin kerinduan

Terjangan badai terhempas
Melawan perih dunia
Burung-burung berbulu sutra
Menegakkan pemikiran jernih

Para Pujangga terus berjalan
Para  Burung pun terus terbang
Mencari kesucian dalam bumi
Tuk mengukir janji suci

Burung-burung berbulu sutra
Mengitari planet ini
Tak henti berjuang
Hingga akhir hayat

Monday, 3 April 2017

Mantra Randu

Api-api membara membakar dinding kamar
Meletupkan emosi di dasar jiwa
Tercabik-cabik oleh otot kuatmu
Binasalah kau Randu

Kuingin kau pergi saja
Jauh tak terlihat
Hilang debu tertiup angin
Pergi saja kau ini

Kau ini membawa petaka
Menggelapkan siang
Menghitamkan kesucian
Melenyapkan harapan

Bunga-bunga Rindu

Dibalik dinding kau melihat
Secuil kisah kecil mulai merintik
Hati yang selalu bermimpi rindu
Terhempas gelombang sendu

Bunga-bunga rindu
Embun pagi menyentuh qalbu
Cinta suci mulai berkata
Ikatan suci telah pasti

Sentuhan takdir itu
Tak dapat dipungkiri
Aku terbang, tuk pergi
Langit kan membawaku

Bibir ini tersiram kesunyian
Realita bermelodi indah
Nada putih akan abadi
Kita takkan pisah