Showing posts with label penulis. Show all posts
Showing posts with label penulis. Show all posts

Tuesday, 11 July 2017

Bosan

Aku duduk di bawah pohon
Dan aku merasa datar
Emosi dan jiwa terasa hambar
Seluruh kejenuhan memenuhi ragaku

Bosan
Letih, lelah, penat aku dengan dunia
Oh, bosan
Terkulai, terkapar, lemah aku dengan kehidupan

Kaki ini malas untuk menujumu
Mata ini berat untuk menatapmu
Telinga ini sudah puas dengan raunganmu
Apalah daya yang tergeletak kegelapan

Bosan
Aku ingin terbang
Melayang, mengudara, bebas
Mengepakkan sayap-sayap anugerah
Aku ingin terbang

Thursday, 29 June 2017

Fatamorgana

Mimpi yang lekat pada dinding kamar
Tercetak goresan angan tinggi
Ribuan warna-warni masa depan
Yang layu karena emosi membara
Sirna jatuh dalam kegelapan

Sekarang aku tahu,
Ini hanyalah ilusi
Seperti di padang sahara
Terbuai oase fantasi
Semua hanyalah fatamorgana

Kerinduan mimpi itu
Menyesakkan hati ini
Jika terpaut, aku takut kembali

Maka dari itu, aku pergi jauh
Aku akan menata kembali
Merangkai cahaya kehidupanku lagi
Membangun istanaku kembali
Yang lebih realistis dan logis

Monday, 17 April 2017

Sendok Ketemu Sotel

Jika ada sendok, maka ada garpu
Maka, ada pasar ada pengunjung
Pasar selalu ramai dikunjungin
Biasanya kaum ken dedes
Tapi kaum arjunapun boleh hadir

Jika ada sendok dan ada sotel
Maka tak layak
Pasti ada hal yang tak jelas
Seperti senja, tak jelas warnanya
Merahkah? kuningkah? ungukah?

Apalagi jika pasar dikerumunin oleh kaum elit
Sangat tak pantas
Bukan elit sakunya
Bukan elit pikirannya
Tapi elit jubahnya

Kedatangan kaum elit seperti mengoyak daging saja
Makan dengan beringas dan menghancurkan segalanya
Segalanya menjadi hancur lebur
Seperti tanah yang longsor
Rusak berantakan

Kaum ken dedes sendu, tangis, dan menjerit
Dan kaum arjunapun, hanya bisa berceloteh lidah
Semua pedih, gundah, remuk
Jika perlu, hancurkan saja bumi ini
Biar puas

Bayangan Cerah

Mungkin seperti cahaya
Yang selalu hadir dengan bayangan dibelakangnya
Mungkin juga, kamu adalah cahaya yang berjalan
Dan aku, bayangan yang mengikutimu

Cahaya indah merasuk sanubari
Terbang melayang ke angkasa
Wahai Panduka Bumi
MalaikatMu sungguh mempesona

Aku tak kuasa memetik bunga mawar
Cukuplah menjadi penjaga taman
Tak berarti memiliki
Cukup membayangi

Wahai Panduka Bumi
Bait-bait suci terlantunkan
Tangan-tangan mulia mulai berjanji
Melalui tandamu, aku menunggu

Tuesday, 4 April 2017

Burung Berbulu Sutra

Ketika burung-burung berterbangan
Mengepakkan sayap-sayap suci
Dihantam awan-awan gelap
Melaju bersama angin kerinduan

Terjangan badai terhempas
Melawan perih dunia
Burung-burung berbulu sutra
Menegakkan pemikiran jernih

Para Pujangga terus berjalan
Para  Burung pun terus terbang
Mencari kesucian dalam bumi
Tuk mengukir janji suci

Burung-burung berbulu sutra
Mengitari planet ini
Tak henti berjuang
Hingga akhir hayat